Sabtu, 14 Februari 2009

Bab 1. Genetika Dasar

Bab ini memberikan tinjauan tentang genetika dasar. Ini terfokus pada prinsip-prinsip umum mengenai genetika yang terjadi pada hewan normal yang sehat. Pengecualian atau penyimpangan dari prinsip-prinsip ini seringkali merupakan landasan tentang penyakit-penyakit keturunan, yang akan didiskusikan pada bab-bab berikutnya.


Kromosom

Jika biak sel darah putih yang membelah dengan cepat diperlakukan dengan alkaloid kolkisin (yang menghentikan pembelahan sel), dan sel tersebut kemudian diwarnai dan dilihat di bawah mikroskop cahaya, struktur yang disebut kromosom menjadi dapat dilihat secara jelas. Kromosom tersebut tersebar secara acak dalam kelompok-kelompok, dan setiap kelompok mengandung semua kromosom yang hanya berasal dari satu sel. Area genetika yang terkait erat dengan kromosom dinamakan sitogenetika.

Untuk mempelajari kromosom secara lebih mendalam, sekelompok kromosom dipilih dan difoto untuk diperoleh gambarnya, seperti ditunjukkan hasilnya pada Gambar 1.1a. Tiap unit pada gambar tersebut terdiri atas dua struktur seperti batang yang digabung bersama pada satu titik sempit. Tiap struktur seperti batang itu adalah kromatid, dan penyempitan tersebut adalah sentromer. Dua kromatid yang digabung pada sentromer baru saja terbentuk dari satu kromosom asli. Jika pembelahan sel tadi dibiarkan terus berlangsung, sentromer akan memisah dan masing-masing kromatid yang terpisah kemudian dinamakan kromosom baru. Untuk lebih mudahnya, kita bicara tentang tiap pasang kromatid yang digabung pada sentromernya sebagai satu kromosom, yang sebenarnya merupakan kromosom yang baru saja menimbulkannya.

Dari hasil cetakan fotograf, semua kromosom dipotong secara individual dengan gunting, dan selanjutnya diatur secara berurutan berdasarkan ukurannya pada selembar kertas. Pengaturan semacam ini memberikan suatu gambaran komplemen kromosom secara lengkap atau kariotipe dari satu sel (Gambar 1.1b). Apabila pengaturan kromosom seperti di atas dilakukan pada banyak individu sehat yang normal dari kedua jenis kelamin spesies mamalia atau burung, maka terdapat dua fakta yang jelas: tiap spesies mempunyai kariotipe yang khas, dan dalam setiap spesies, setiap jenis kelamin mempunyai kariotipe yang khas.

Kariotipe dari spesies yang berbeda mempunyai bentuk, ukuran dan jumlah kromosom yang berbeda juga. Pada setiap spesies, semua kromosom dalam sel selalu berpasangan. Pada individu-individu dari satu jenis kelamin tertentu, kedua kromosom dari setiap pasangan mempunyai bentuk dan ukuran yang sama. Pada jenis kelamin yang lain, semua kromosom juga selalu berpasangan, tetapi ada satu pasang kromosom terdiri dari dua kromosom yang bentuk dan ukurannya berbeda. Pada sepasang kromosom ini, satu kromosom mempunyai bentuk dan ukuran sama seperti salah satu pasang kromosom pada jenis kelamin yang disebutkan pertama.
Perbedaan kariotipe antara dua jenis kelamin tersebut merupakan kunci untuk penentuan jenis kelamin. Pada mamalia, sepasang kromosom yang bentuk dan ukurannya berbeda terdapat pada jantan, dan disebut kromosom X dan Y. Satu dari semua pasangan kromosom dalam sel mamalia betina, terdiri dari dua kromosom X. Jadi pada mamalia, individu jantan adalah XY dan individu betina adalah XX. Kromosom X dan Y dikenal sebagai kromosom kelamin. Pada burung, kromosom kelamin mempunyai nama yang berbeda, dan berkaitan dengan jenis kelamin, penamaannya berlawanan dengan mamalia: dimana burung jantan adalah ZZ dan burung betina adalah ZW. Untuk memudahkan pemahaman, kita akan menggunakan sistem penamaan pada mamalia dalam diskusi-diskusi berikutnya, walaupun semua pernyataan dapat digunakan pada burung jika penamaan jenis kelaminnya dibalik.

Kromosom selain kromosom kelamin dinamakan autosom. Pada setiap spesies, jantan dan betina mempunyai satu set autosom yang sama, dalam bentuk berpasangan. Kromosom kelamin dan autosom yang secara bersama-sama terdapat dalam satu sel disebut genom, yang merupakan total set kromosom dalam satu sel. Genom yang terdiri dari pasangan-pasangan kromosom dikatakan diploid, dan dua kromosom dalam setiap pasangan dinamakan homolog. Untuk menekankan bahwa kromosom-kromosom tersebut selalu berpasangan, jumlah total kromosom dikatakan sebagai 2n, dimana n adalah jumlah pasangan. Sebagai contoh, jumlah kromosom kariotipe yang diilustrasikan pada Gambar 1.2 adalah 2n = 38. Agar dapat mengidentifikasi setiap pasang kromosom dalam satu kariotipe, pasangan-pasangan autosom diberi label sesuai dengan aturan main yang telah disetujui secara internasional, seperti dapat dilihat pada Gambar 1.1b. Dua kromosom kelamin biasanya ditempatkan pada urutan terakhir.

INSERT GAMBAR 1.1.

Gambar 1.1. (a) Kromosom kucing jantan, sebagaimana dilihat melalui mikroskop cahaya. (b) Kariotipe kucing jantan, sebagaimana diperoleh dengan penataan kembali potongan kromosom secara individu dari cetakan fotografi kromosom (a).


Untuk menjelaskan kariotipe secara lebih lengkap, kromosom seringkali dikelompokkan menurut apakah sentromer berada pada satu ujungnya (akrosentrik), lebih dekat ke satu ujung daripada ujung lainnya (sub-metasentrik) atau di tengah (metasentrik). Pada buku ini, kita akan mengikuti kebiasaan praktis dalam menggunakan metasentrik untuk mencakup baik metasentrik maupun sub-metasentrik. Tangan pendek dari tiap kromosom diberi simbul p (petite = small = kecil), dan tangan panjang diberi simbul q. (Jika sentromer berada di tengah kromosom, simbul dari tangan yang mana yang disebut p adalah bersifat bebas (arbitrary), tetapi disetujui oleh konvensi internasional, untuk kromosom akrosentrik, misalnya autosom sapi, tidak perlu membedakan antar tangan, dan tidak juga p atau q yang digunakan.) Penjelasan ringkas tentang kariotipe dari hewan domestik disajikan pada Tabel 1.1. Kariotipe burung berbeda dengan kariotipe mamalian, karena selain beberapa autosom berukuran besar, mereka memiliki banyak autosom berukuran sangat kecil yang dinamakan mikrokromosom.


INSERT TABEL 1.1.


Pemitaan

Ketika kariotipe pertama kali ditemukan, pasangan individu kromosom dapat diidentifikasi hanya berdasarkan ukuran dan bentuknya. Sejak itu, berbagai metode pewarnaan kromosom telah dikembangkan, yang memunculkan wilayah terang dan gelap yang dinamakan pita. Tipe utama pita tersebut secara luas diklasifikasikan sebagai G, Q, R, C, T, dan N.

Sebagai contoh pemitaan, pita-G sapi diilustrasikan pada Gambar 1.2. Karena posisi, lebar, dan jumlah pita biasanya berbeda untuk setiap pasang kromosom, tiap pasangan kromosom dapat diidentifikasi oleh pola pitanya. Dengan mempelajari banyak sel yang diperlakukan dengan cara yang sama, dimungkinkan menggambar idiogram, yang merupakan pencerminan dari pola pita yang khas untuk tiap pasang kromosom. Pita pita tersebut secara unik diidentifikasi menurut suatu konvensi yang dikenal sebagai the International System for Cytogenetic Nomenclature of Domestic Animals (ISCNDA). Tiap tangan dibagi menjadi sejumlah kecil wilayah yang diberi nomor secara berurutan mulai dari sentromer. Kemudian, pada tiap wilayah, pita-pita tersebut diberi nomor secara berurutan mulai yang terdekat dengan sentromer. Misalnya, pita ke dua pada wilayah ke tiga dari kromosom 1 pada sapi diberi simbul 132, sedangkan pita ke dua pada wilayah ke empat dari tangan panjang kromosom X adalah Xq42. Idiogram ISCNDA untuk sapi diilustrasikan pada Gambar 1.3. Kariotipe berpita dari spesies domestik diilustrasikan pada Lampiran 1.1.


INSERT GAMBAR 1.2 dan GAMBAR 1.3

Minggu, 01 Februari 2009

“Ngalor-ngidul” Statistik Peternakan

Alih-alih dapat mencapai target pemerintah berswasembada daging tahun 2010, 70% dari total kebutuhan daging nasional saat ini dipenuhi dari import. Bukan sebaliknya seperti yang sering dikatakan bahwa 20%-30% kebutuhan daging nasional dipenuhi dari import. Kesimpulan saya ini berdasarkan hasil perhitungan angka-angka yang diterbitkan di buku statistik peternakan terbitan Direktorat Jenderal Peternakan tahun 2007.
Tidak percaya? Silakan hitung sendiri dengan data berikut ini. Konsumsi daging sapi 0.31 kg/kapita/ tahun (halaman 139); jumlah penduduk Indonesia 221 juta (halaman 211); impor sapi bakalan dan daging sapi yang rata-rata naik hampir 20% per tahun (halaman 31). Data teknis yang saya gunakan adalah berat badan sapi import 400-500 kg; berat badan sapi lokal 300-350 kg; karkas 45-50%; kandungan daging dalam karkas 65%. Mudah-mudahan perhitungan saya tidak salah bahwa hasilnya sekitar 70% daging di Indonesia berasal dari import.
Namun kalau melihat data jumlah pemotongan sapi di Indonesia yang rata-rata 1.768.571 ekor per tahun (halaman 115), pernyataan selama ini bahwa daging impor hanya menutupi 20% - 30% kebutuhan daging nasional ada benarnya karena rata-rata impor sapi dari luar negeri (sapi bakalan dan daging beku) sebanyak 337.856 ekor per tahun (halaman 31).
Jadi, dengan menggunakan data sapi yang disajikan pada buku statistik peternakan yang sama, hasilnya berbalikan. Hasil yang satu menunjukkan bahwa 70% kebutuhan daging dipenuhi dari import sedangkan hasil satunya lagi menunjukkan bahwa 70% kebutuhan daging dipenuhi dari sapi lokal. Jika dua-duanya tidak bisa diterima, maka jawaban lainnya adalah bahwa konsumsi daging sapi di Indonesia tidak lagi 0.31 kg/kapita/tahun, tetapi lebih dari itu!!. Inilah potret data statistik peternakan. Angka manakah yang benar diantara angka-angka yang disajikan pada buku yang sama?
Tidak heran apabila banyak pihak sering mengeluhkan kesahihan data keluaran pemerintah. Konon data pemerintah lebih sering kelirunya daripada benarnya. “Ambil saja separonya bila menggunakan data pemerintah” seloroh seorang teman akademisi dari kampus ternama di Indonesia. Tidak hanya data pemerintah saja sebenarnya. Data instansi swastapun sering tidak akurat karena terkait dengan hitung-hitungan bisnis dan kewajiban membayar pajak. Kata teman yang lain lagi, data yang disajikan pihak swasta bisa berubah-ubah, dan angka yang dimunculkan sangat tergantung pada kegunaan data tersebut. Tampaknya ini sudah menjadi rahasia umum di Indonesia, walaupun sebaiknya jangan dibudayakan.
Memang bukan pekerjaan mudah untuk menghasilkan data yang baik dan benar. Walaupun dari waktu ke waktu, kualitas buku statistik peternakan (tampilan maupun substansinya) terus diperbaiki namun masih saja hasilnya seperti yang saya uraikan di atas sebagai salah satu contohnya. Namun demikian, bukan berarti kita tidak bisa membuat data statistik yang baik dan benar di masa mendatang. Khususnya data dari pemerintah --sebagai lembaga publik--, mestinya harus akurat dan tepat mengingat keberadaan data yang baik dan benar merupakan bahan pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan penting, apalagi yang menyangkut kemaslahatan umat.
Upaya menghasilkan data statistik yang baik dan benar sangat mungkin dan bisa dilakukan. Banyak pakar statistik di Indonesia, teknologi informasi juga semakin canggih, fasilitas untuk menjalankan teknologi tersebut juga sangat memadai, dan semua perangkat lainnya juga siap mendukungnya. Kita tinggal membutuhkan kemauan dan semangat melayani publik untuk menghasilkan data yang terbaik, tentunya dengan memberikan dukungan finansial dan reward yang memadai bagi para profesional yang mengerjakannya.
Contoh menarik tentang akurasi data di Indonesia adalah data yang terkait dengan pemilihan umum untuk memilih pemimpin ekskutif di tingkat pusat dan di tingkat daerah maupun untuk memilih anggota lembaga legislatif di Indonesia sejak di era reformasi selama ini. Hasil perhitungan cepat (quick count) yang dilakukan oleh lembaga survei seringkali tidak meleset dengan hasil perhitungan manual yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Memang menghitung jumlah kertas suara (yang merupakan benda mati) sangat berbeda dengan jumlah ternak (barang hidup dan berkembang) apalagi ternak kecil seperti ayam dan sebangsanya. Namun, sekali lagi, bukan berarti tidak bisa.
Selamat menunaikan tugas baru dengan semangat baru di tahun 2009.

Muladno.
Guru Besar pada Fakultas Peternakan IPB dan Ketua I PBISPI 2006-2010

Dipublikasi juga di Majalah TROBOS edisi Januari 2009


PRATAKA DARI PENERJEMAH

Salah satu buku wajib yang harus dipelajari oleh mahasiswa di Department of Animal Science University of Sydney adalah Introduction to Veterinary Genetics. Buku ini ditulis oleh Prof. F.W. Nicholas yang juga pengajar di Universitas tersebut. Buku yang terdiri atas 20 bab ini ditulis dengan sangat runut, jelas dan mudah diikuti, dan dalam setiap prinsip yang dijelaskan selalu disertai dengan contoh contoh sederhana.

Prof. F.W. Nicholas mempunyai kepribadian menarik dan bahkan sangat baik. Orangnya ramah, akomodatif, dan selalu memberi apresiasi kepada mahasiswanya terhadap kemajuan sekecil apapun yang telah dicapai. Selain tidak pernah marah, Prof. F.W. Nicholas adalah seorang pendengar yang baik dan sangat dekat dengan para mahasiswanya. Sudah menjadi tradisi baginya bahwa setiap akhir semester (masa perkuliahan berakhir) professor ini selalu mentraktir mahasiswanya untuk minum bir bersama di kafe dekat kampus. Namun beliau tidak membayar semua yang diminum tetapi hanya membayar segelas bir pertama yang diminum setiap mahasiswanya (bagi yang memang mau minum). Bila mahasiswa ingin minum lagi segelas atau lebih, mereka harus membayar sendiri.

Substansi yang ditulis oleh Prof. F.W. Nicholas dalam bukunya, tentunya, dapat juga ditemukan dalam buku lain. Namun demikian buku ini memiliki kekuatan lain karena penulis berasumsi bahwa pembacanya adalah pemula di bidang genetika, yang oleh karena itu ditulis sejelas-jelasnya. Tidak heran apabila buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa di dunia (setidaknya sudah empat bahasa). Ada kejadian menarik yang saya lihat sendiri di ruang kerja beliau. Suatu hari seorang mahasiswi dari Italia sedang melancong ke Sydney Australia, yang salah satu tujuannya adalah ingin bertemu Prof. F.W. Nicholas untuk mengatakan bahwa dia sangat senang dengan bukunya itu karena mudah dimengerti dan dicerna isinya.

Prof. F.W. Nicholas sangat dikenal di banyak komunitas di dunia tetapi penampilannya tetap sederhana dan bersahaja. Ketika saya pamitan meninggalkan University of Sydney pada akhir bulan Agustus 1994, saya mengatakan kepada beliau bahwa suatu saat nanti akan terbit buku Introduction to Veterinary Genetics versi bahasa Indonesia. Itu merupakan janji diri sendiri untuk mengapresiasi Prof. F.W. Nicholas yang memiliki kepribadian yang sungguh sangat baik.

Dengan tertatih-tatih, karena diselingi dengan berbagai kesibukan, akhirnya saya dapat menuntaskan penerjemahan buku tersebut pada akhir tahun 2004. Jadi perlu waktu 10 tahun! Sudah basikah ilmu yang ada di dalamnya? Walaupun buku tersebut telah dipublikasi pada tahun 1996, saya rasa buku tersebut tidak basi karena substansi yang terkandung di dalam terdiri atas banyak prinsip yang masih relevan sampai hari ini. Bahwa ada kemajuan teknologi di bidang genetika tidak dapat dipungkiri tetapi prinsip dasarnya masih ada dalam buku tersebut.

Atas terbitnya buku terjemahan ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Prof. F.W. Nicholas yang secara antusias membantu perolehan ijin menerjemahkan buku dari penerbit Oxford Press. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Ditjen Pendidikan Tinggi atas kesempatan yang diberikan untuk mengikuti pelatihan menjadi penerjemah buku di bawah bimbingan Bapak Adjat Sakri dan timnya pada pertengahan tahun 1998. Saya sampaikan terima kasih kepada Bapak Ir. Dedin Rohaedin yang menangani pengeditan kalimat, pencetakan buku dan penerbitannya serta Ibu Dra Laksmi yang mengedit bahasa Indonesianya. Terakhir, untuk kesekian kalinya, saya ingin menyampaikan terima kasih dan apresiasi tinggi kepada Bapak Dr. Rachmat Pambudy yang selalu memotivasi saya untuk banyak menulis dan yang selalu peduli terhadap upaya menerbitkan buku-buku ilmiah bagi pengembangan ilmu dan teknologi di Indonesia. Kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya.

Semoga bermanfaat.


Dr. Muladno

Hidup Bersama Flu Burung

Flu burung menjadi epidemi di negeri kaya burung. Indonesia mempunyai 1598 spesies burung—nomor 4 terbesar di dunia setelah Kolumbia, Peru, dan Brazil. Epidemi itu menelan korban jiwa. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan RI mencatat 112 orang meninggal dunia dari 137 kasus yang terkonfirmasi di Indonesia hingga 25 November 2008.

Sebagian besar korban meninggal berdomisili di propinsi Jawa Barat (33 orang), DKI Jakarta (33 orang), dan Banten (28). Sisanya berdomisili di delapan propinsi lainnya. Anehnya, hampir semua korban meninggal dunia bukan orang yang sehari-hari bekerja di kandang unggas. Bukan pula orang yang bekerja sebagai penyembelih unggas atau pedagang unggas. Namun, justru orang yang sama sekali tidak bersentuhan dengan unggas.

Sebaliknya jutaan orang yang bekerja di usaha peternakan unggas masih tetap sehat wal afiat. Mereka beraktivitas seperti biasa, sudah tidak takut lagi dengan kejadian flu burung. Virus yang pertama kali menyerang unggas pada pertengahan tahun 2003 itu tentu saja juga mengakibatkan puluhan juta ekor unggas terkapar. Kejadiannya hampir merata di seluruh propinsi di Indonesia. Hingga saat ini, kasus flu burung masih belum dapat diatasi dan korban manusia maupun unggas masih ditemukan.

Menuding babi
Yang cukup merisaukan banyak pihak adalah mekanisme penularan virus dari unggas ke manusia belum terungkap secara jelas. Buktinya muncul “keanehan” bahwa korban meninggal dunia bukan orang yang sehari hari bekerja di perunggasan. Ada juga yang mensinyalir bahwa penularan virus dari unggas ke manusia dimediasi oleh babi. Artinya, virus unggas menginfeksi babi, tetapi tidak mengakibatkan kematian.

Virus dari babi kemudian menginfeksi manusia dan mengakibatkan kematian. Akibatnya banyak babi di Tangerang, Propinsi Banten, dibakar dan dimusnahkan. Namun, tidak ada bukti kuat tentang peran babi dalam penularan virus flu burung dari unggas ke manusia. Maka keberadaan babi pun dipertahankan sampai saat ini.

Yang jelas, virus flu burung-- khususnya tipe H5N1-- dari unggas dapat mengakibatkan manusia meninggal dunia bila terinfeksi. Ayam kampung tak luput dari tudingan sebagai penyebab epidemi itu. Maklum peternak biasanya membiarkan ayam kampung mereka berkeliaran. Oleh karena itu ayam kampung yang banyak dipelihara di pemukiman menjadi momok paling menakutkan bagi sebagian besar masyarakat.

Malahan beberapa kepala daerah menginstruksikan pemusnahan ayam kampung dan ayam lainnya. Ada juga yang membentuk Forum Masyarakat Anti Ayam. Aktivitasnya? Menumpas seluruh ayam di wilayah pemukiman dan sekitarnya. Padahal, selama ini mereka juga mengonsumsi daging ayam. Upaya membumihanguskan ayam kampung semakin menjadi-jadi. Para peternak ayam tentu tak tinggal diam. Mereka menentang keras upaya memberangus ayam kampung.

Para pakar genetika juga angkat bicara. Mereka berteriak tidak setuju terhadap upaya pemusnahan ayam kampung. Keputusan yang salah bila ayam kampung dibersihkan dari bumi Indonesia secara serampangan. Jangan salah, ayam kampung di Indonesia merupakan salah satu nenek moyang ayam di dunia. Itu dibuktikan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang bekerjasama dengan International Livestock Research Institute (ILRI).

Kedua lembaga riset itu menganalisis fragmen DNA ayam kampung dari berbagai pelosok Indonesia dan membandingkan dengan fragmen DNA yang sama dari ayam di beberapa negara lainnya. Ayam kampung harus dilestarikan dan dioptimalkan penggunaannya bagi umat manusia. Dengan melakukan penelitian secara lebih intensif, potensi genetiknya dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembentukan ayam modern yang semakin efisien, produktif, dan tahan terhadap penyakit.


Hidup bersama
Kerugian akibat flu burung yang merebak pada pertengahan 2003-2007, mencapai Rp. 4.1 Trilyun. Harap mafhum pada kurun itu banyak ayam musnah atau dimusnahkan, anjloknya permintaan ayam dan produk turunannya, berkurangnya konsumsi ayam di restoran atau di banyak warung kecil lainnya. Belum lagi kerugian dari sektor pariwisata. Itu belum termasuk hilangnya banyak kesempatan kerja akibat penurunan produksi ayam.

Walau kejadian kasus flu burung pada manusia semakin mereda, kita harus tetap waspada. Selain itu kita harus lebih serius mencegah terjadinya kasus flu burung karena penyakit itu mengakibatkan pandemi atau penularan virus dari manusia ke manusia. Dari simulasi yang dilakukan seandainya terjadi pandemi flu burung, diperkirakan terdapat 66 juta orang sakit dan 150.000 orang meninggal dunia.

Kerugian lain bila terjadi pandemi adalah tidak ada kegiatan ekonomi seperti pelayanan jasa bank, pariwisata, dan industri akibat banyak orang sakit dan kekhawatiran orang tertular sakit. Diperkirakan dalam jangka pendek kerugian mencapai Rp 14 Trilyun – Rp 48 Trilyun. Suatu jumlah yang sangat besar dan berefek domino yang sangat membahayakan stabilitas negara.

Kita memang harus siap berdampingan dengan virus flu burung. Karena virus flu burung sudah endemik di Indonesia. Sebenarnya sangat mudah mencegah mewabahnya virus. Kunci utamanya adalah tertib dan disiplin melakukan pola hidup sehat dan bersih di mana pun kita berada. Ingat virus flu burung mudah ditularkan melalui berbagai kontak dengan media pembawa virus.

Dalam perusahaan peternakan unggas, upaya mengamankan kehidupan unggas dari serangan penyakit mutlak dilakukan secara tertib dan konsisten. Ayam kampung yang selama ini diumbar di pekarangan harus dikandangkan di tempat bersih. Intinya adalah melakukan hal sederhana yang terkait dengan kebersihan dan kesehatan hewan yang berujung pada kesehatan manusia.

Zoonosis
Yang perlu diperbaiki antara lain pola pemotongan ayam untuk menyediakan daging konsumsi. Setiap hari, ayam dipotong di tempat pemotongan yang sebagian besar kotor. Bau anyir dan pemandangan menjijikkan menjadi santapan sehari-hari. Di situ pula salah satu penyebaran virus flu burung. Sebagian besar pasar tradisional tempat menjual daging ayam juga kotor.

Daging kemudian diolah dan disajikan di banyak restoran atau dijajakan berkeliling di pemukiman penduduk. Hampir 80% konsumen di Indonesia membeli daging ayam yang diproses di tempat pemotongan yang jauh dari bersih dan sehat. Oleh karena itu, perlu ada gerakan bersih dan kampanye secara terus-menerus untuk mengubah kebiasaan konsumen yang membeli produk ayam seperti itu.

Memang bukan perkara gampang. Namun, dengan adanya kasus flu burung diharapkan upaya itu dapat lebih mudah dilakukan. Bukankah hingga 2008 masih ada kasus flu burung? Permasalahan flu burung di Indonesia memang kompleks sehingga tidak mungkin membasmi virus flu burung secara tuntas. Seandainya tidak ada Komnas FBPI (Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza), bisa jadi kejadian flu burung semakin tidak terkendali.

Sinyalemen itu menjadi benar karena ada kekhawatiran banyak pihak terhadap rencana pembubaran Komnas FBPI pada tahun 2010 mendatang. Yang penting untuk dicatat adalah bahwa penyakit zoonosis (suatu penyakit hewan yang dapat menular ke manusia atau sebaliknya) itu bukan hanya penyakit flu burung. Penyakit baru akan muncul dan penyakit yang dulu ada juga akan muncul kembali (emerging and re-emerging diseases). Ada lebih dari 150 penyakit zoonosis.

Merebaknya penyakit zoonosis yang bisa muncul kapan saja dan dari mana saja menjadi kepedulian komunitas global. Penyakit itu tidak mungkin ditangani oleh para dokter manusia saja atau dokter hewan saja. Perlu pendekatan lintas disiplin ilmu dan pengetahuan yang melibatkan kedua profesi melalui pengembangan sistem “satu kesehatan satu dunia”.

Oleh karena itu, amat sangat disayangkan apabila kejadian flu burung yang memakan banyak korban manusia, hewan, uang, dan energi tidak memberikan makna pembelajaran bagi bangsa Indonesia untuk bertindak lebih baik lagi, berpikir lebih cerdas lagi, berkreativitas lebih inovatif lagi, dan bekerja lebih profesional lagi.

Muladno
Guru Besar Pemuliaan dan Genetika Ternak pada Fakultas Peternakan IPB;
Koordinator Bidang Perencanaan dan Pengembangan KOMNAS FBPI.

Majalah TRUBUS No. 471 edisi Februari 2009.

Selasa, 30 Desember 2008

Seratus Edisi Majalah Trobos


Dunia dalam genggaman! Ini bukan kiasan tetapi realita yang sudah jamak ditemui saat ini. Mau apa saja dapat dilakukan tanpa harus mengayunkan kaki tetapi cukup dengan menggerakkan jari-jemari tangan pada telepon genggam (telgam) kita. Mau membayar tagihan listrik atau telepon atau kartu kredit; membeli barang atau jasa, cukup dengan menekan tombol tombol pada telgam tersebut, semua urusan beres. Melalui telgam, kita juga dapat menjelajah internet atau mengirim faks ke berbagai tujuan dan melakukan aktifitas lainnya. Tentu saja, kita bisa juga mengambil berbagai informasi terkini tentang berbagai macam berita dari manapun asalnya melalui penulurusan internet di telgam. Kemajuan teknologi informasi telah mengubah gaya hidup manusia saat ini.
Namun demikian, manusia yang telah dimanjakan oleh teknologi tersebut masih haus informasi atau tulisan lainnya dari media cetak. Terbukti di era teknologi informasi seperti diilustrasikan di atas, semakin banyak media cetak diterbitkan dalam bentuk majalah, surat kabar, buletin, tabloid, dan lain lain. Padahal manusia yang mengonsumsi berbagai media cetak itu kebanyakan juga mereka yang memiliki telgam dengan berbagai kemudahan tersebut di atas. Artinya, manusia masih memerlukan atau menikmati karya jurnalistik yang mengintegrasikan unsur keindahan gambar/foto, ketepatan informasi, kesopanan tutur bahasa dalam suatu cetakan yang indah dan dalam kemasan yang nyaman untuk dibaca, dipajang, atau disimpan (didokumentasikan).
Salah satu bentuk media cetak adalah majalah yang biasanya diterbitkan secara mingguan, dua-mingguan, atau bulanan. Karena tidak diterbitkan setiap hari, pola pemberitaan di majalah sangat berbeda dengan pembertitaan di surat kabar harian. Kesegeraan memberitakan suatu informasi tidak terlalu penting tetapi menyajikan hasil analisis berbagai informasi penting untuk dijadikan tulisan komprehensif tentang isu terkini merupakan kekuatan suatu majalah. Berbagai narasumber dimintai pendapatnya terhadap isu terkini tersebut yang diharapkan menghasilkan pendapat atau opini beragam. Jadilah tulisan itu merupakan sajian menarik yang esensinya juga meningkatkan wawasan atau bahkan mencerdaskan pembaca.
Membuat tulisan komprehensif yang didalamnya mengupas benturan dua pendapat yang berbeda atau merangkum keserasian dua pendapat yang selaras bukan suatu pekerjaan mudah. Perlu kesabaran dalam memperoleh informasi akurat dari narasumber yang tepat; perlu memahami etika dalam penulisan; perlu kehati-hatian dalam menyitir atau menyadur atau menerjemahkan pendapat narasumber terhadap suatu isu; serta perlu kepandaian dalam menata alur cerita yang logis dan kronologis sehingga produk tulisan akhirnya mampu menstimulir otak pembaca untuk ikut menganalisa atau masuk dalam pergulatan pemikiran di permasalahan yang diangkat dalam majalah tersebut. Jelas hal ini merupakan jenis pekerjaan intelektual berkualitas yang harus ditopang pula dengan idealisme.
Jurnalis dalam menyampaikan informasi ke khalayak boleh saja salah karena kekhilafan atau salah karena hal lain tak disengaja; tetapi jurnalis tidak boleh berbohong secara sengaja. Sangat terlihat juga dalam berbagai tulisan di majalah bahwa jurnalis sebagai seorang professional dapat menyajikan tulisan secara objektif dan berimbang, serta sangat piawai mendapatkan informasi melalui berbagai pertanyaan yang jeli dan penuh curious (keingintahuan).
Tidak cukup hanya tulisan menarik dan tajam analisisnya saja yang dibutuhkan dalam menerbitkan suatu majalah. Sampul majalah dengan foto atraktif yang sesuai dengan tema atau topik utama penyajian berita merupakan hal substantial untuk membuat image positif bagi pembaca terhadap suatu majalah. Tata letak tulisan, urutan dalam penempatan rubrik, penempatan gambar iklan dengan jumlah yang proporsional terhadap jumlah halaman majalah, pemberian judul tulisan atau hal hal kecil lainnya tampaknya merupakan bentuk keragaman seni dan kreativitas para pekerja intelektual di suatu penerbitan majalah.
Berpegang pada kaidah kejurnalistikan tersebut, majalah TROBOS--yang didirikan pada bulan Oktober 1999 oleh Alm. H. Wahyudi Mohtar dan kawan kawan-- memfokuskan pemberitaannya dalam bidang agribisnis peternakan dan perikanan. Pasang surut dan dinamika dalam menerbitkan majalah tersebut telah dialaminya sebagai bentuk “kawah candradimuka” bagi para jurnalis muda sebagai pemegang estafet dalam membesarkan majalah ini nantinya.
Dalam perjalanannya, bulan Januari tahun 2008 ini, majalah Trobos memasuki edisi ke 100. Ini merupakan angka baik yang ada baiknya dijadikan momentum penting bagi seluruh crew majalah Trobos untuk melakukan evaluasi diri secara komprehensif serta melakukan introspeksi terhadap berbagai aktifitas yang dilakukan selama ini dalam upaya meningkatkan kualitas manajemen dan bisnis majalah Trobos ke depan. Selamat berkreasi dan berinovasi!!! Muladno, TROBOS edisi Januari 2008.

DITJENNAK, ISPI dan FPPTPI Berpikir positif bertindak kreatif


Penandatanganan Nota Kesepahaman (NK) antara Direktorat Jenderal Peternakan (DITJENNAK), Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), dan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Peternakan Indoneia (FPPTPI) dilakukan pada tanggal 10 Mei 2006 di Pusat Penelitian Peternakan di Bogor. Inti dari isi NK tersebut adalah membuat dan melaksanakan kegiatan di bidang peternakan dengan memanfaatkan potensi dan sumberdaya yang dimiliki masing-masing pihak untuk jangka waktu lima tahun. Acara penandatangan NK tampak sederhana dan khidmat. Acara ini dibarengkan dengan acara pengukuhan Ketua ISPI Cabang DKI Jakarta, yang diakhiri dengan diskusi panel tentang Restrukturisasi Perunggasan Nasional.

Lahirnya NK tersebut dilandasi oleh kepedulian dan pola berpikir positif para pemimpin ketiga organisasi tersebut terhadap situasi peternakan saat ini. Ini dipicu atas kejadian flu burung yang tak kunjung reda. Beberapa aktivitas seperti penyuluhan biosecurity kepada peternak, sosialisasi dan kampanye gizi ke masyarakat luas, atau penataan ulang sistem produksi ternak unggas merupakan rencana yang akan dikerjasamakan antara tiga pihak tersebut. Ribuan mahasiswa yang dimiliki perguruan tinggi, otoritas yang dimiliki ditjen peternakan, dan jaringan luas yang dimiliki ISPI merupakan modal besar untuk mengimplementasikan kerjasama yang sangat positif itu.

Kita berharap agar kerjasama ini tidak hanya beraktivitas untuk pengendalian flu burung saja tetapi juga aktivitas lainnya sehingga implementasi NK tersebut akan benar-benar menghasilkan output yang berdampak luas bagi pemulihan kondisi peternakan ke arah yang jauh lebih baik lagi. Import ternak dan produknya yang semakin tinggi dari waktu ke waktu merupakan realitas yang tidak perlu didiskusikan lagi tetapi perlu segera dicarikan solusinya dan diimplementasikan. Jumlah populasi ternak yang cenderung menurun juga merupakan realitas lain yang memerlukan tindakan nyata untuk mencegahnya dan diupayakan untuk meningkatkannya. Kualitas sumberdaya manusia peternak sebagai tulang punggung utama tersedianya pangan sumber protein hewani bagi bangsa Indonesia perlu ditingkatkan kualitas dan keterampilannya. Tentunya masih banyak lagi. Yang penting sekali untuk dicatat adalah bahwa penyelesaian berbagai masalah tersebut tidak dapat dilakukan sendiri tetapi akan sangat efektif bila dilakukan melalui kerjasama yang saling memperkuat sebagaimana telah dicontohkan oleh ketiga organisasi tersebut di atas.

Apapun hasil yang diperoleh dari kerjasama ini, DITJENNAK, ISPI, dan FPPTPI telah memberikan teladan bagi komunitas peternakan untuk secara proaktif mengurangi beban bangsa dan negara Indonesia dari tumpukan persoalan yang menghimpitnya. Ketulusan hati para pemimpin ketiga organisasi itu dan tanggung jawab moral yang ditunjukkan kepada para anggotanya melalui antusiasnya menggalang kerjasama tersebut benar-benar memberikan angin sejuk di tengah hiruk pikuknya suasana menyedihkan yang menyelimuti bangsa Indonesia saat ini seperti perbuatan anarkis buruh dalam demonstrasi tanggal 2 Mei 2006, kisruh politik di Tuban pacapilkada yang berakhir anarkis juga, kisruh sosial budaya terkait dengan RUU APP (Antipornografi dan Pornoaksi) yang memicu konflik antar tokoh masyarakat, dan segudang kejadian mengenaskankan lainnya.

Memang untuk ukuran bangsa berpenduduk 220 juta, apa yang diperbuat mereka bertiga masing-masing Dirjen Peternakan Ir. Mathur Riady, M.Sc Ketua Umum PBISPI Ir. A. Purwanto, MBA dan Sekjen FPPTPI Dr. Ir. Ifar Subagiyo mungkin terasa bagaikan riak-riak di tengah samudra luas dalam konteks pembangunan nasional secara keseluruhan. Namun demikian, bila semua pemimpin di level manapun selalu menjunjung tinggi rasa kebersamaan dan saling mengoptimalkan potensi yang dimiliki, maka seberat apapun permasalahan yang dihadapi akan sangat mudah diatasi.

Percayalah dengan apa kata orang bijak. Bila tiga pihak saling bertukar sebuah apel, masing-masing ketiga pihak tersebut hanya akan memperoleh sebuah apel juga. Namun, bila tiga pihak saling bertukar sebuah ide, masing-masing akan memperoleh sedikitnya tiga ide. Melalui kerjasama dengan lebih banyak pihak, ribuan ide pasti akan dihasilkan untuk menyelesaikan jutaan masalah!!!.

Muladno. Lektor Kepala Fapet IPB dan Sekjen PB-ISPI





BPTU Sapi Aceh Indrapuri: Ingin bangkit pasca-GAM dan Tsunami


Kedengarannya sangat aneh apabila BPTU (Balai Pembibitan Ternak Unggul) Sapi Aceh Indrapuri terkena terjangan tsunami di akhir Desember 2004 lalu karena lokasinya di lereng Pegunungan Bukit Barisan sekitar 30 km dari Banda Aceh. Tapi itulah yang terjadi dan hampir semua arsip yang dimilikinya ludes. Tragis memang nasib institusi milik pemerintah pusat di bawah naungan Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal Peternakan.

Ketika GAM (Gerakan Aceh Merdeka) masih beraksi di bumi serambi Mekkah, pada tanggal 24 Mei 2003 beberapa oknum GAM menyatroni BPTU dan membakar seluruh bangunan yang ada. Tidak ada gedung, fasilitas maupun dokumen yang tersimpan dapat diselamatkan. Sekitar 60 ekor sapi juga ikut diambil paksa. Pada bulan Juli 2003, kantor BPTU beserta seluruh pegawainya dipindahkan sementara ke Kantor Dinas Peternakan Propinsi Banda Aceh. Sejak saat itu, setiap hari para pegawai BPTU disediakan satu bis khusus antar-jemput ke Indrapuri dan Banda Aceh.

Setelah dilakukan renovasi sebagian bangunan gedungnya (terutama gedung utama) dan beberapa kandang sapi, direncanakan pada tanggal 15 Januari 2005 kantor BPTU Indrapuri diaktifkan lagi dan persiapan untuk pindah dari Banda Aceh ke lokasi asalnya telah dilakukan dengan matang. Namun, pada tanggal 24 Desember 2004 (sekitar tiga minggu sebelum hari kepindahan), tsunami juga ikut menerjang kantor Dinas Peternakan Propinsi Aceh yang lokasinya berjarak 4 km dari laut. Tidak ada selembar dokumen pun yang dapat diselamatkan dari bencana yang luar biasa dahsyatnya itu. Akhirnya, kembali aktifnya para personil BPTU di Indrapuri sekitar bulan Februari 2005 hanya dibekali kepedihan. Semua habis dan harus dimulai dari nol!.

Sejarah berdirinya BPTU.
Tadinya tanah dan lahan BPTU ini milik rakyat dan Koperasi Karet Indrapuri (Kopkari). Pada tahun 1972, oleh pemerintah daerah setempat, tanah tersebut dibebaskan yang kemudian dijadikan tempat berdirinya Sekolah Pengamat Kehewanan (SPK). Sampai tahun 2000, sekolah ini menerima lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk dididik selama satu tahun. Namun setelah itu, hanya tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dapat diterima untuk dididik selama satu tahun. Karena berbagai alasan, sejak tahun 2004, waktu pendidikan bagi tamatan SMA diperpendek menjadi enam bulan. Di sekolah tersebut, semua murid dibebaskan dari biaya pendidikan dan itu menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Nangroe Aceh Darussalam. Dulunya, para alumninya yang rata-rata sebanyak 30 orang diberi modal usaha setelah menyelesaikan pendidikan.

Pada tahun 1978, SPK dipindahkan ke Kecamatan Saree Aceh Besar di Puncak Selawah (70 km dari Banda Aceh) yang lahan dan tanahnya cukup subur dan cocok untuk tempat pengembangan usaha peternakan. Kepindahan SPK ini diikuti dengan pendirian Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (BPT-HMT) Indrapuri berdasarkan SK Menteri Pertanian No.313/Kpts/VII/1978 tertanggal 19 Juli 1978. Lahan ini memang tidak subur dan tanahnya berbatu cadas sehingga perlu diolah dulu sebelum dimanfaatkan untuk tumbuh-kembangnya hijauan makanan ternak. Adanya tantangan alam inilah yang justru dijadikan salah satu alasan didirikannya BPT-HMT di sini. Bila kawasan ini menjadi hijau karena adanya ternak, maka peternakan akan dikembangkan di kawasan tersebut yang memang masih luas dan belum banyak termanfaatkan.

Bersama dengan BPT-HMT lainnya di seluruh Indonesia, nama BPT-HMT Indrapuri kemudian diubah menjadi BPTU Sapi Aceh Indrapuri pada tanggal 16 April 2002. Namun demikian kata ”Unggul” pada singkatan BPTU ini terasa membebani para pegawainya karena mereka merasa bahwa institusi ini masih memiliki banyak sekali keterbatasan akibat bencana manusia (GAM) dan bencana alam (Tsunami).

Fasilitas dan arah pengembangan ke depan.
Untuk mencapai lokasi BPTU ini tidak terlalu sulit. Dari Bandara Sultan Iskandar Muda, BPTU dapat dicapai dalam waktu sekitar 40 menit, menelusuri jalan raya Banda Aceh-Medan. Dari jalan raya tersebut (kira-kira pada km ke 30), masuk ke arah pegunungan Bukit Barisan sejauh sekitar 5 km. Di sebelah kiri-kanan jalan menuju lokasi BPTU, tampak hamparan luas berbatu cadas namun memiliki pemandangan yang cukup indah. Satu kilometer menuju lokasi BPTU, jalan tampak rusak parah dan terkesan tidak terurus.

BPTU ini memiliki lahan seluas 450 hektar yang dibatasi dengan pagar kawat berduri. Hanya 5 ha yang digunakan untuk perkantoran. Di dalam area tersebut terdapat 75 ha kebun rumput berserta lahan pembibitannya seperti rumput gajah, rumput bintang, lamtoro, stilosances, dan Brachiaria decumben. Sekitar 150 ha lahan lainnya dipetak-petak menjadi 30 peddock dan digunakan sebagai tempat penggembalaan sapi secara bergiliran. Disediakan juga tujuh unit kandang sapi yang secara keseluruhan menempati area 595 x 432 meter-persegi. Sumber air di lokasi tersebut cukup bagus. Sungai yang mengalirkan air juga melewati lokasi BPTU. Untuk memudahkan pola pengairan, dibuat pula bak penampung air berukuran 10 x 10 meter persegi. Dengan adanya beberapa fasilitas tersebut, diperkirakan daya tampung BPTU saat ini adalah 600 ekor sapi dewasa.

Sebelum berubah nama menjadi BPTU, institusi ini memiliki 300 ekor ternak sapi diantaranya sapi Brahman-cross, sapi Aceh (sapi lokal), sapi Brangus, sapi Sahiwal, dan sapi Simental, serta 600 ekor ternak domba ekor tipis. Saat ini seluruh domba dan semua sapi berkelamin jantan disumbangkan ke para korban tsunami. Yang tertinggal hanya 4 ekor sapi Aceh pejantan unggul yang dijaring dari masyarakat dan sekitar 210 ekor sapi betina yang sebagian besar adalah sapi Aceh.

Sesuai mandat yang diberikan oleh pemerintah, BPTU yang memiliki sekitar 70 pegawai ini diarahkan untuk menyediakan dan memproduksi, mengembangkan, serta memasarkan bibit unggul sapi Aceh. Sapi ini memang disukai masyarakat Aceh sejak dulu. Oleh karena itu, program grading up untuk dapat menghasilkan sapi Aceh murni dengan segala sifat dan karakter khasnya perlu diprioritaskan. Tampaknya, sumberdaya manusia yang memahami ilmu dan penerapan pemuliaan dan perbibitan mutlak ditingkatkan kualitasnya baik melalui pendidikan formal atau melalui berbagai pelatihan terstruktur. Terkait dengan mandat tersebut, instansi ini juga mulai mengajak Universitas Syah Kuala untuk bermitra dalam mengembangkan sapi Aceh ini ke depan. Muladno